REVISNEWS.COM, MASOHI— Bagi Fredy Fernando Loumaly, mewujudkan sebuah sekolah permanen di Negeri Hatuolo, Pegunungan Seram utara bukan sekadar urusan membangun gedung.
Ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Ada keterbatasan yang harus dihadapi. Bahkan untuk menghadirkan material bangunan ke lokasi sekolah, dibutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.
Semen, tegel, besi, kayu dan berbagai material lainnya tidak bisa dengan mudah diangkut menggunakan kendaraan hingga ke lokasi pembangunan SD Negeri 355 Maluku Tengah.
Sebagian material harus dipikul melewati medan pegunungan.
Perjalanannya pun bukan hitungan jam. Bisa mencapai dua hari hingga material tiba di lokasi.
Kondisi itu menjadi salah satu tantangan yang kini dihadapi dalam proses pembangunan sekolah permanen di Hatuolo.
Kepala SD Negeri 355 Maluku Tengah, Fredy Fernando Loumaly, mengungkapkan perjuangan tersebut kepada wartawan di Masohi, Selasa (15/9).
Menurutnya, perjuangan menghadirkan sekolah yang layak di Hatuolo sudah berlangsung cukup panjang.
Ia melihat langsung bagaimana anak-anak di wilayah tersebut tetap memiliki semangat untuk bersekolah meski harus belajar dalam berbagai keterbatasan.
Baca juga : Bupati Dorong Maulid Jadi Event Daerah
Mereka memiliki cita-cita dan harapan. Namun, fasilitas pendidikan yang tersedia belum sepenuhnya mampu memberikan ruang belajar sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi itulah yang mendorong Fredy terus berupaya agar SD Negeri 355 Maluku Tengah mendapatkan perhatian.
Administrasi dipersiapkan. Komunikasi dibangun. Kebutuhan sekolah disampaikan kepada berbagai pihak.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. SD Negeri 355 Maluku Tengah mendapatkan Paket Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Program tersebut kini mulai direalisasikan. Targetnya, tahun ini masyarakat Hatuolo dapat memiliki bangunan sekolah yang lebih layak dan permanen.
Namun, bagi Fredy, mendapatkan paket revitalisasi bukanlah garis akhir.Justru di situlah tantangan baru dimulai. Ketika Material Harus Dipikul
Pembangunan sekolah di wilayah perkotaan mungkin identik dengan kendaraan pengangkut material, alat berat dan akses jalan yang relatif mudah.

Kondisinya berbeda di Hatuolo. Letak sekolah di kawasan Pegunungan Seram membuat mobilisasi material menjadi persoalan tersendiri.
Semen dan tegel yang memiliki bobot cukup berat harus dibawa melewati medan yang terjal. Demikian pula besi, kayu dan material pembangunan lainnya.
Sebagian material bahkan harus dipikul dengan berjalan kaki. Waktu tempuhnya dapat mencapai dua hari.
Medan yang menanjak, licin dan sulit dilalui membuat setiap perjalanan membutuhkan tenaga ekstra.
Namun pekerjaan itu tetap harus dilakukan. Sebab, material yang dipikul bukan sekadar semen, tegel, besi atau kayu. Di balik setiap material tersebut ada sebuah ruang kelas yang sedang dibangun. Ada sekolah yang sedang diusahakan berdiri kokoh di tanah Hatuolo. Dan ada anak-anak yang menunggu untuk belajar dengan kondisi yang lebih baik.
Perjuangan di Balik Anggaran
Kisah pembangunan SD Negeri 355 Maluku Tengah memperlihatkan bahwa keberadaan anggaran dan program pembangunan belum otomatis membuat pekerjaan di lapangan menjadi mudah.
Paket revitalisasi sudah diperoleh. Perencanaan sudah disiapkan. Tetapi medan tetap harus ditaklukkan. Material harus dimobilisasi. Cuaca harus diperhitungkan. Akses yang terbatas harus dicarikan solusi.
Baca juga : HUT GPM ke-91, Sektor Irene Hadirkan Skrining Kesehatan Gratis
Setiap persoalan membutuhkan jalan keluar. Ketika kendaraan tidak bisa menjangkau lokasi, tenaga manusia menjadi pilihan.
Ketika material sulit dibawa, harus dicari cara agar tetap dapat sampai.
Dan ketika tenaga serta akses terbatas, kerja sama menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan terus berjalan.
Bagi Fredy, membangun sekolah di Hatuolo bukan hanya soal mendirikan bangunan. Ada perjuangan melawan jarak, medan, cuaca dan keterbatasan.
Akses sekolah dan Harapan Anak Hatuolo
Di balik semua tantangan itu, terdapat alasan yang membuat perjuangan tersebut harus terus berjalan. Anak-anak Hatuolo, Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
Mereka hanya ingin memiliki ruang belajar yang layak. Mereka ingin belajar dengan nyaman di sekolah mereka sendiri.Kini harapan itu perlahan mulai terlihat.
Bangunan permanen yang selama ini diperjuangkan mulai diwujudkan melalui program revitalisasi satuan pendidikan.
Fredy menyadari, perjuangan tersebut bukan tentang dirinya.Ini tentang masa depan anak-anak Hatuolo.
Tentang hak mereka memperoleh pendidikan yang layak, meski tinggal jauh di kawasan Pegunungan Seram.
Perjalanan pembangunan itu masih panjang. Tantangan di lapangan pun belum berakhir.
Namun, bagi Fredy dan mereka yang terlibat dalam perjuangan tersebut, keterbatasan akses bukan alasan untuk berhenti.
Jika material harus dibawa dengan berjalan kaki selama dua hari, perjalanan itu tetap harus ditempuh.
Jika medan berat harus dilewati, maka medan itu harus dihadapi.
Sebab sekolah yang sedang dibangun itu bukan sekadar bangunan fisik.Ia adalah simbol harapan.
Suatu hari nanti, ketika anak-anak Hatuolo duduk di ruang kelas baru, belajar dengan lebih nyaman di sekolah permanen yang berdiri di tanah mereka sendiri, mungkin mereka tidak akan mengetahui betapa panjang perjalanan untuk menghadirkan bangunan tersebut.
Tetapi perjuangan itu akan menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Hatuolo.
Sejarah tentang sebuah sekolah yang diperjuangkan dari tengah keterbatasan. (Rn-01).