REVISINEWS.COM,MASOHI— Krisis air bersih melanda warga di tiga pulau kecil di Kecamatan Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Kondisi ini terjadi setelah hujan tidak turun selama kurang lebih tiga bulan terakhir.
Tiga pulau yang terdampak yakni Pulau Ay, Pulau Sjahrir dan Pulau Run. Warga di wilayah tersebut kini kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Selama ini, masyarakat di tiga pulau tersebut mengandalkan air hujan yang ditampung melalui bak-bak penampungan di rumah. Selain itu, kebutuhan air juga dipenuhi melalui pasokan dari pulau lain.
Namun, kemarau panjang membuat persediaan air yang sebelumnya ditampung warga mulai menipis hingga habis.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah mengerahkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memasok air bersih kepada masyarakat di tiga pulau terdampak.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir mengatakan, pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi kekeringan.
“Kami sudah kerahkan PDAM untuk memasok bantuan air bersih kepada warga di sana,” kata Zulkarnain, Rabu (10/9), kemarin.
Menurutnya, penanganan krisis air tersebut juga mendapat dukungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku yang ikut melakukan distribusi air kepada masyarakat.
Sejumlah anggota DPRD Maluku Tengah juga disebut telah turun membantu masyarakat yang terdampak.
“BWS juga sudah turun dan action di lapangan, termasuk sejumlah anggota DPRD. Nah, yang mau ikut berpahala, ayo silakan,” ujar Zulkarnain.
Zulkarnain menjelaskan, persoalan air bersih di tiga pulau tersebut bukan masalah baru. Kondisi geografis sebagai pulau-pulau kecil membuat masyarakat tidak memiliki sumber air permukaan yang dapat diandalkan.
Karena itu, warga selama ini menjadikan air hujan sebagai salah satu sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengantisipasi kebutuhan pada musim kemarau, masyarakat membangun bak-bak penampungan berukuran besar di sekitar rumah untuk menampung air hujan.
“Sebenarnya sumber air permukaan itu tidak ada di sana, karena pulau-pulau kecil kan. Jadi harus disuplai dari pulau besar,” jelasnya.
“Mereka biasanya memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, mereka punya bak penampung. Namun, beberapa bulan ini tidak turun hujan, makanya ketersediaan air mereka habis,” sambungnya.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak. Pemkab Malteng bersama BWS Maluku dan pihak lainnya terus melakukan penyaluran untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat selama kekeringan berlangsung.
Baca juga : Pemkab Malteng-PLN Perkuat Sinergi, Dorong Pemerataan Listrik hingga Kawasan Wisata
Namun, Bupati menyadari distribusi air menggunakan armada pengangkut hanya menjadi solusi sementara dan belum menyelesaikan persoalan secara permanen.
Pemkab Malteng, kata dia, mulai memikirkan skema penyediaan air bersih yang lebih permanen bagi masyarakat di tiga pulau tersebut.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan yakni pembangunan fasilitas pengolahan atau penyulingan air laut menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Untuk jangka panjang, kita juga sedang berpikir agar ke depan mereka punya pengolahan air sendiri, misalnya penyulingan air laut. Itu yang sedang dipikirkan dan waktu akan terus berkembang, itu pasti terjadi,” pungkasnya.
Menurutnya, solusi jangka panjang tersebut penting mengingat keterbatasan sumber air tawar merupakan persoalan yang berulang bagi masyarakat di pulau-pulau kecil.
Dengan adanya fasilitas pengolahan air yang dapat beroperasi secara mandiri, masyarakat diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari luar pulau setiap kali musim kemarau melanda.
Untuk sementara, Pemkab Malteng memastikan distribusi air bersih terus dilakukan bersama BWS Maluku dan pihak-pihak lain yang bersedia membantu hingga kondisi ketersediaan air masyarakat kembali membaik. (Rn-01).